Ekspresikan Cintamu Wahai Pecinta!!

 


Cinta, hanya akan tertahan di lisan sampai ia diungkapkan. Cinta, hanya akan jadi hayalan sampai ia diwujudkan. Mengaku cinta, maka sebutlah ia. Mengku cinta, maka buktikanlah. Karena cinta mempunyai tanda dan memerlukan pembuktian.

Kepada siapa cinta kita sepatutnya tertambat? Tentu saja jawabannya adalah kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. Beliau adalah orang yang wajib dicintai oleh semua umat. Bahkan cinta kepadanya, harus dimenangkan atas cinta kepada orang tua, istri, anak, keluarga, dan semuanya.

Mencintainya tidak akan bertepuk sebelah tangan. Mencintainya pasti akan berbalas indah. Mencintai Nabi, anti patah hati, bahkan berbalas sejuta kali. Namun, lagi-lagi, cinta mengharuskan bukti. Sehingga tidak hanya berada dalam alam imajinasi.

Bagaimana membutikan cinta?

Tanda seorang sedang jatuh cinta, ia akan selalu menyebut namanya. Dalam kondisi apapun, sesuatu yang ia cinta, akan senantiasa ia bawa. Dalam situasi apapun, sesuatu yang ia cinta, akan ia jadikan topik utama. Bahkan disebutkan;

من أحب شيئا أكثر من ذكره، ومن أكثر من ذكر شئ أحبه

Siapapun yang mencintai sesuatu, namanya akan selalu ia sebut. Siapapun yang sering menyebut sesuatu, maka menjadi tanda, ia mencintainya

Tanda nyata bahwa kita mengaku cinta kepada Kanjeng Nabi adalah lisan kita senantiasa mengucap namanya. Mulut kita selalu memujinya. Hati kita mendengungkan nama dan memujinya. Laku kita mencerminkan kepribadiannya. Tingkah kita tidak mengecewakannya.

Bahkan Tuhan pun telah secara jelas mengajarkan cara mencintai kekasih-Nya itu. Allah memberi tahu kedudukan Sang Terkasih di sisi-Nya. Allah memujinya di hadapan para malaikat, dan mereka pun memujinya. Allah memberitahu sekaligus memerintahkan kita semua untuk selalu memujinya. Sehingga pujian manusia sebagai penduduk bumi berpadu dengan pujian para penduduk langit. Semua tertuju pada kemuliaan Baginda Nabi Muhammad saw.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Melantunkan dan melazimkan selawat, dengan demikian merupakan bukti nyata pertama cinta kita kepada Baginda. Selalu menyebut nama Sang Terkasih (berselawat), adalah bukti bahwa kita sangat mencintainya.

Beragam redaksi selawat yang telah banyak disusun, merupakan bukti sanjungan dan pujian tertinggi hanya ditujukan kepada Sang Penebar Rahmat. Maulid al-Barzanjī, Maulid al-Dibā’ī, Maulid Simtuddurār, bahkan sampai yang terpendek, kita mengenalnya dengan selawat Jibril صلّى اللّه على محمّد, merupakan sekian dari jutaan ekspresi itu.

Lebih-lebih pada bulan ini, Rabiul Awal. Bulan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad saw. Karena ini pula, nama bulan lebih dikenal dengan Bulan Maulid. Orang Jawa menyebutnya dengan Wulan Mulud. Gegap gempita ekspresi kesenangan, kegembiraan, dan pujian, menjadi bukti kerinduan yang sangat dan kecintaan yang mendalam kepada Beliau.

Namun, bahasa cinta hanya dapat dipahami oleh para pecinta. Bahasa rindu hanya dimengerti oleh para perindu. Memuji Kanjeng Nabi dengan tingkat pujian tertinggi adalah ekspresi rindu dan cinta kepadanya. Tentu rindu ingin bertemu, dan cinta ingin berjumpa.  Lantunan selawat dikumandangkan sepanjang bulan, bahkan sepanjang tahun. Satu-satunya alasan adalah karena rindu dan cinta. Karena selain syafaatnya, apa yang bisa kita andalkan?

Lisan dan hati selalu menyebut namanya. Laku dan tingkah mencerminkan kepribadiannya.

Kanjeng Nabi Muhammad adalah orang yang paling sayang kepada anak yatim dan kaum papa.

Kanjeng Nabi Muhammad adalah orang yang paling menghormati keluarganya, isteri dan anak-anaknya.

Kanjeng Nabi Muhammad adalah orang yang paling memahami dan menerima perbedaan, tidak saja kepada orang yang berbeda, bahkan kepada orang yang nyata-nyata memusuhinya.

Maka bukti cinta kita kepadanya, kita berlaku sepertinya. Adakah kita sudah menyangi mereka yang disayanginya? Adakah kita sudah menghormati mereka yang dihormatinya? Adakah kita sudah berlemah lembut sebagaimana Nabi Muhammad ajarkan?

Mencintai adalah meneladani. Ini menjadi bukti, bahwa cinta kita hakiki. Mencintai berarti tidak mengecewakan. Maka mengikuti kepribadiannya, merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Teramat sempurna Nabi Muhammad saw. dengan segala kemuliaannya. Memotivasi dan melatih diri untuk mengikuti jejak langkahnya, merupakan suatu keniscayaan dengan semaksimal kemampuan untuk mengikuti dan meneladani.


Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak