Takzir itu Wujud Cinta

di dalam photo: Mbah Atemo

Saya yakin, semua santri, pasti pernah mendapatkan takzir. Kecuali mereka yang lurus-lurus saja atau mereka yang cerdik sehingga selalu lolos dari hukuman. Zaman kami, begitu kena hukuman, jangankan lapor polisi, lapor orang tua pun justru bakal kena tambahan hukuman. Bagi saya, beragam takzir yang berlaku waktu itu, merupakan wasilah berkah.

Berkah atau barokah adalah زيادة الخير atau bertambahnya kebaikan. Bisa jadi setelah ditakzir, yang tadinya malas jadi semangat. Bisa jadi setelah kena hukuman, yang awalnya memble jadi gesit. Dan yang pasti, setelah kena takzir, yang awalnya ngantuk jadi melek. Kena guyur ketika pura-pura antri wudhu buat salat subuh, tapi aslinya pindah tidur, misalnya. Dijamin, setan yang bergelayutan di kelopak mata seketika minggat.

Urusan tidur, jangan tanyakan ke santri. Dia bisa tidur dimanapun dan kapanpun. Lha wong di kamar mandi aja bisa, apalagi di kasur empuk. Pakai alas atau tidak, bagi santri ga jadi masalah. Saat merem, semua terasa sama. Yang membedakan adalah cara bangun. Ada yang bangun sendiri karena kesadaran, ada yang susah bangun. Nah, yang susah bangun ini jadi kerjaan para pengurus dan pembimbing pondok.

Lucu dan sering terjadi. Biasanya ini terjadi waktu subuh. Ada yang sujud sampai jamaah bubar. Ada juga yang ndeprok sampai para santri bubar untuk membuat kelompok-kelompok ngaji di sekeliling mushalla. Tau kan kalau tidur dalam posisi duduk, bahkan sampai sejam. Jaminan, kaki bakal gringgingen (kesemutan). Jalan 2 langkah pasti ambruk, sambil pijit-pijit mringis nahan malu, biasanya mereka ngesot-ngesot sekuat tenaga keluar dari mushalla.

Kembali ke urusan takzir, saya pun termasuk yang pernah kena. Dari yang enteng, nyapu mushalla, baca asmaul husna, ngaji sambi berdiri, kuras kolam ikan, ngosrek kamar mandi toilet, digundul, diupili, sampai sabetan rotan dan gamparan Kiai pernah saya alami.

Ya, waktu itu Agustus 2004, saya kelas 2 MAK. Kebetulan menjadi petugas upacara. Sudah bangunnya telat, harus koordinasi lapangan pula. Akhirnya saya bolos sorogan dengan Kiai Hilmi yang jadwalnya pagi baksa subuh sampai menjelang jam 7. Kitab yang waktu itu saya baca adalah Fatḥ al-Mu’īn. Karena ga ngaji, sang Kiai ke asrama. Niatan salim, justru “kecupan sayang” dari tangan beliau mampir di kepala saya. Peci yang saya pakai sampai terbang tinggi. Untung yang lihat cuma 1 orang, namanya Baehaqi, teman saya asli UjungPangkah Gresik. Ga kebayang kalau yang menyaksikan itu banyak orang, bakal pucet saya.

Dendam? Boro-boro, yang ada justeru malu karena berarti adab dan disiplin saya ga ada.

Macam-macam sebab saya kena takzir. Dipanggil ga gercep ngadep, ga ngaji, ga jamaah subuh, bolos sekolah, nonton konser, ngrokok, dan banyak hal lain. Konsekuensi karena melanggar adalah kena hukuman. Itu saja yang muncul di pikiran dan perasaan. Bukan terus marah, misuh, ngedumel, apalagi dendam.

Setelah kena takzir, kami tetap di pondok, ga kabur pulang dan ngadu ke orang tua. Sadar karena kesalahan sendiri, maka tanggung jawab dipikul sendiri.

Lebih dari takzir, ini pernah kami alami juga. September 2007. Stadium general untuk mahasiswa baru Ma’had Ali Al-Munawwir. Kebetulan waktu itu saya ada di semester 3. Allahu yarham, Romo Kiai Zainal Abidin Munawwir menyampaikan materi. Kami, yang saya ingat ada Kang Pethot Kang Dauddan 2 orang lagi saya lupa namanya, berada di posisi paling belakang dan ada ruang kosong. Sambil mendengarkan Kiai, kami justru udud di ruangan kosong tersebut. Sampai beliau ngendika kurang lebih begini jaman saiki, setan wes ora nggoda menungso, sebab setane lagi pada udud”. Seketika kami saling memandang, lalu mematikan rokok, dan segera merapat ke barisan.

Romantika jadi santri memang bakal melekat sampai akhir hayat. Kami yang pernah kena takzir tetap hormat kepada sang guru dan kiai. Justru setelah 20 tahun lulus dari pondok, cerita-cerita itu menjadi obrolan yang seru. Ketika kumpul dengan teman seangkatan misalnya, justru obrolan yang paling indah adalah ngobrolin “kenakalan” waktu itu.

Saya memang tidak nyantri kemana-mana kecuali hanya di Pondok Krapyak. 1999-2005 di Yayasan Ali Maksum. 2005-2009 di Ma’had Ali Al-Munawwir. Sedikit penyesalan adalah saya ga serius ngaji. Lebih banyak main-main, guyon, nongkrong, mancing, dan tidur. Namun tanpa putus asa, semoga yang sedikit itu membawa berkah dan manfaat bagi hidup, sendiri, keluarga, dan umat.

Semoga para guru dan kiai kami diberikan kesehatan, kebaikan, dan keberkahan. Al-fātiḥah.


Sekelumit cerita cinta di pondok untuk meramaikan #Harisantri

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak