Rajut Persaudaraan, Tebar Perdamaian

 

Agama Cinta Damai


Kesadaran bahwa kita diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang berbeda-beda merupakan hal yang sangat penting. Dengannya, kita akan tau, bahwa secara fitrah, antar kita memang berbeda. Beda suku, beda bahasa, beda agama, beda kepercayaan, beda kulit, dan sederet perbedaan yang lain. Perbedaan tersebut semestinya menjadi alat pemersatu. Sekali lagi, itu akan terwujud mana kala kesadaran sudah ada dalam diri kita masing-masing.

Pada kesempatan ini, saya bersama Pak Laurentus Sumisdi, salah seorang tokoh Agama Katolik membersamai kawan-kawan KKN UIN Walisongo Semarang, berusaha mengetengahkan kesadaran tersebut dan sebagai usaha dalam menyemarakkan Moderasi Beragama. Harapannya tentu menjadi bekal bagi kita semua untuk merajut kebersamaan dan kerukunan, dalam kondisi yang berbeda itu.

Menjadi penting untuk diungkap, sebab meskipun dilaporkan bahwa trend gerakan radikal dan ekstrim sudah menurun, namun kita semua tidak boleh lengah. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini, disinyalir kuat, “mereka” tetap aktif melakukan pengumpulan masa dan bahkan dana melalui media sosial.

Era digital saat ini, di satu sisi banyak membantu roda kehidupan, namun di sisi lain, beropini dan berpendapat sangat bebas di sana. Siapapun boleh ngomong tentang apapun. Bukan seorang dokter bicara cara mengobati penyakit, bukan montir bicara tentang mesin, bahkan bukan ahli agama bicara dengan bebas tentang agama. Ini lah zaman disrupsi yang mau tidak mau harus kita jalani.

Salah satu upaya lain yang bisa kita lakukan adalah kembali menghayati makna Tri Kerukunan Umat Beragama. Ketiganya yaitu; Kerukunan Intra Umat Seagama, Kerukunan Antar Umat Beragama, dan Kerukunan antar (pemuka agama) dengan Pemerintah. Ketiganya saya bahasakan dengan Ukhuwah Islamiyyah, Ukhuwah Insaniyah, dan Ukhuwah Wathaniyah.

Rukun antar sesama umat seagama menjadi landasan pokoknya. Ketika umat seagama, dengan beragam madzhab dan aliran telah sadar misi utama agamanya, maka ketenteraman akan terjalin dengan baik. Dengannya pula, dengan umat beragama yang lain pun dapat hidup dengan harmonis, tanpa perlu mempertentangan perbedaan dan memertaruhkan keyakinan masing-masing. Setelah kerukunan dengan sesama umat seagama dan dengan antar umat beragama terjalin dengan baik, maka bedampak pada keharmonisan antara rakyat dengan pemerintah dalam segala kebijakannya.

Setidaknya ada beberapa prinsip dalam Usaha Menjaga Kerukunan ini. 

Pertama; memahami dasar dalam agama, bahwa Allah SWT. menciptakan kita berbeda-beda (QS. Hūd: 118-119). Bukan untuk saling bermusuhan melainkan merajut hubungan yang damai dan harmonis. Ikatan bahwa kita sama-sama manusia menjadi inti dari semangat persaudaraan ini (Ukhuwah Insaniyah). Sehingga, dengan semangat kemanusiaan ini, maka ada kewajiban untuk saling tolong-menolong dan berbuat adil.

Dalam Surah al-Mumtaḥanah Ayat 8 misalnya, Allah SWT. berfiman.

 لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُم مِّنْ دِيَارِكُمْ أنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوْا إلَيْهِمْ إنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ 

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Kedua, Menunjukkan Akhlak Karimah (budi pekerti yang baik). Kita semua hidup di Indonesia yang sangat kaya dengan keragamannya. Sebagai seorang muslim, dalam kehidupan sosial, kita tentu bersentuhan dengan pemeluk agama lain. Dalam pergaulan tersebut, merupakan kewajiban bersama untuk berlaku baik, bertutur kata baik, penuh sopan santun, dan menebarkan kasih sayang.

Hal ini sebagaimana Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk tetap bertutur kata yang baik, bahkan kepada Fir’aun.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Ṭāhā: 44)

Nabi saw. juga bersabda:

أَوْحَى اللهُ إِلَى إِبْرَاهِيْمَ  يَا إِبْرَاهِيْمُ حَسِّنْ خُلُقَكَ وَلَوْ مَعَ الْكُفَّارِ تَدْخُلْ مَدَاخِلَ الْأَبْرَارِ

"Allah menyampaikan wahyu kepada Nabi Ibrahim As: 'Perbaikilah budi pekertimu meskipun terhadap orang-orang non-Muslim, maka engkau akan masuk (surga) tempat tinggal orang-orang yang baik'" (HR. Al Hakim at Tirmidzi)

Sikap lemah lembut merupakan refleksi dari kebeningan spiritual pada diri seorang Muslim.

Ketiga, menghayati hubungan persaudaraan sebangsa setanah air (Ukhuwah Wathaniyyah). Kita semua semestinya memahami, bahwa bangsa Indonesia ini terwujud lantaran keberagaman yang ada, salah satunya keberagaman agama. Pendirian bangsa ini pun merupakan pengorbanan dari seluruh masyarakat yang berbeda agama tersebut. Yang akhirnya,  semuanya melebur dalam satu naungan, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ikatan persaudaran sesama anak bangsa ini meniscayakan kewajiban bersama untuk saling bahu-membahu bekerjasama dalam membela, memajukan, dan memakmurkan negaranya, sekaligus mengesampingkan segala bentuk perbedaan primordial.

Keempat, memahami arti penting Kebebasan Beragama dan berkeyakinan. Dalam konsep Islam, kita paham makna

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ 

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)” (QS Al-Baqarah: 256). 

Bahkan, kebebasan tersebut juga diatur dalam UUD 1945. Artinya, memahami ajaran agama dengan baik, akan membawa -salah satunya- penghormatan atas pilihan agama dan keyakinan masing-masing orang.

Kelima, sebagai perwujudan dari ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathaniyah di atas, maka kita semestinya dapat menghormati hak tiap-tiap warga negara. Hak berpendapat, hak memperoleh pekerjaan, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan kehidupan yang baik, dan segala hak yang lain. Pemenuhan hak orang lain tersebut menjadi kewajiban bagi yang lainnya.

Kerukunan yang hendak diraih tersebut tentu tidak boleh melanggar segala hal yang telah menjadi aturan dalam Agama. Setidaknya 2 hal penting yang tidak boleh dilanggar, 

Pertama; mencampuradukkan keyakinan dan tidak boleh mengolok Tuhan agama lain. 

Kedua, tidak mempermainkan ritual peribadatan dan menghormati symbol masing-masing agama. 

Dua hal tersebut berkaitan dengan akidah dan syariah. Sementara dalam bidang Mu’amalah (pergaulan antar sesama manusia), baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik, kewajibannya adalah membaur, menyatu, bahu-membahu untuk mewujudkan kebersamaan.

Problemnya, terkadang kita dibentur-benturkan antara agama yang kita anut dengan ideologi bangsa kita, Pancasila. Sekali lagi, ketika kita benar-benar memahami agama kita, maka akan kita temukan bahwa Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, bahkan semua agama.

Oleh karenanya, bergama itu semestinya merupakan sumber peradaban. Bergama bukan sebagai identitas kelompok sosial yang hanya akan menggiring perasaan bahwa keberadaan agama lain menjadi ancaman. Beragama itu semestinya menyatukan, sehingga tidak ada ruang untuk saling bertikai dan mengancam. Bergama itu semestinya meneguhkan nilai-nilai Pancasila yang merupakan sumber beradaban masyarakat yang majemuk, seperti Indonesia.

Sebagai warga negara yang beragama, Mari.

Sama-sama kita kembali pada identitas dan karakter bangsa Indonesia. Bangsa yang terkenal dengan kerjasama dan gotong royongnya. Bangsa yang terkenal dengan sopan santunnya. Bangsa yang terkenal dengan tepo selironya.
Bersama-sama mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan empat pilarnya.
Bersama kita lawan segala hal yang dapat merusak kesatuan Indonesia.
Bersama-sama membangun dan berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang adil dan beradab.

Semoga Indonesia tercinta ini menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.


Amin ya Rabbal 'alamin


Materi seminar ada di sini



Posting Komentar

1 Comments

Posting Komentar

Formulir Kontak