Menggapai Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural

Moderasi Beragama di Indonesia

Kehidupan yang rukun merupakan dambaan setiap manusia. Saking pentingnya, terdapat paribasan (peribahasa) Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah. Peribahasa tersebut bermakna kehidupan yang rukun akan membawa kekuatan dan kekokohan, sementara pertengkaran dan percekcokan akan membuat kehancuran. Kerukunan hidup manusia berbangsa dan bernegara dengan demikian sangat penting untuk diwujudkan agar Bangsa Indonesia yang kita cintai ini menjadi bangsa yang kuat dan kokoh.

Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah melalui Pendidikan Multikultural. Sebuah proses pengembangan potensi dalam rangka menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekwensi dari keragaman budaya, etnis, agama, aliran kepercayaan, bahasa, suku, dan keberagaman yang lain. Kesadaran bahwa kita -rakyat Indonesia- beragam adalah penting. Dengan kesadaran itu, maka muncul semangat untuk bersama. Dengan kebersamaan, nilai toleransi pun hadir dalam diri.

Kang Kana menyebut bahwa arah kebijaksanaan pendidikan multikultural adalah untuk mewujudkan civil society dengan parameter masyarakat yang demokratis dengan memberi partisipasi masyarakat lebih luas, dengan landasan kepastian hukum, nilai-nilai egalitarian, nilai-nilai keadilan, menghargai harkat kemanusiaan, dan menghormati perbedaan SARA dalam kesatuan bangsa.

Pendidikan Multikultural dengan demikian membawa kepada kesadaran bahwa kita semua adalah manusia. Sedangkan tugas utama manusia adalah Memanusiakan Manusia. Secara sekilas, Pendidikan Multikultural sebagai upaya memupuk kehidupan yang harmoni saya sajikan dalam tulisan yang termuat dalam Buku Moderasi Beragama di Indonesia 4 berikut ini.

Maskur Rosyid, "Menggapai Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural" dalam Moderasi Beragama di Indonesia, Upaya Rekonstruksi Melalui Pendidikan Jilid 4 (Jakarta: Azkia Publishing, 2020), 133-137.


Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak