Menghormatlah karena Dia Manusia

Saling menghormati


Tidak jarang, kita menghormati orang lain karena statusnya, karena dia pejabat, karena dia anak pejabat,  karena dia kolega para pejabat,  karena dia orang kaya, karena dia anak orang kaya, atau karena karena yang lainnya.

Artinya, ketika dia bukan pejabat, bukan anak pejabat, tidak punya kolega pejabat, buka orang kaya, bukan anak orang kaya, maka penghormatan itu pun menjadi hilang. 

Kita sering tertipu oleh bentuk fisik semata. Kaya, jabatan, ganteng, cantik, adalah rupa fisik. Melihat sesuatu hanya dari bentuk zahir, maka kita akan terjebak pada keindahan semu.

Tertipu pada bentuk fisik, hanya akan menghilangkan hakikat. Esensi dari sekadar fisik adalah batin. Keindahan yang muncul dari penglihatan inti ini akan membawa kepada keindahan nyata.

Kenyataan yang nyata, satu-satunya alasan kita menghormati orang lain adalah karena dia manusia.

Manusia dalam bentuknya yang beragam. 

Manusia dalam perilakunya yang bermacam.

Manusia dalam keyakinannya masing-masing.

Manusia dalam apapun jabatan,  peran, dan posisinya.

Semestinya tidak menjadi halangan untuk berlaku hormat. Tidak perlu harus menjadi apa dulu, tidak perlu harus seperti apa dulu, seseorang baru kita hormati. Cukup melihat bahwa dia adalah manusia.

Sikap ini akan terbentuk ketika kita banyak bergaul dengan beragama komunitas. Heterogenitas akan membentuk akal dan hati kita lebih terbuka. Sebaliknya, bak keong dalam tempurung, orang yang hanya bergaul dalam satu komunitas saja, akan merasa hebat sendiri, kuat sendiri, dan cenderung meremehkan orang lain. 

Buka wawasan kita. 

Buka pikiran kita. 

Banyak hal baik di luar sana.

Banyak hal positif di sekitar kita.

Itu jika kita mau belajar dan membuka diri untuk mau menerima perbedaan. 

Maka, ketika melihat orang lain, kita akan berpikir bahwa dia lebih baik dari kita.

Ketika melihat orang yang lebih tua, kita akan berpikir bahwa dia telah lebih banyak berbuat baik dari pada kita. 

Ketika melihat orang yang lebih muda, kita akan berpikir bahwa dia lebih sedikit melakukan kesalahan dari pada kita.

Ketika melihat orang pintar, kita akan berpikir bahwa dia telah banyak mengamalkan ilmunya ketimbang kita.

Ketika melihat orang bodoh, kita berpikir bahwa dia melakukan kesalahan karena ketidaktahuannya,  sementara kita melakukannya dalam kondisi kita tau.

Bahkan, ketika pun melihat orang yang berbeda agama, kita akan berpikir bahwa dia akan diberi Hidayah oleh Tuhan.


Jika sudah demikian, adakah alasan kita meremehkan orang lain?


Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak