NqtaNWJ4MaxaNGF6MGp7NaJcMSMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANLITE103

Syar’u Man Qablanā

 


Syar’u Man Qablanā; Istilah tersebut diartikan sebagai syariat atau ajaran-ajaran para nabi sebelum Islam yang berhubungan dengan hukm. Sebegai contoh, syariat Nabi Ibrahim as., syariat Nabi Musa as., dan syariat Nabi Isa as.

Apakah syariat para nabi tersebut berlaku bagi umat Islam? Berikut penjelasannya.

Tiga Kategori Syar’u Man Qablānā

Pertama, Syariat terdahulu yang tidak tercantum dalam Alquran dan Sunnah

Kedua, Syariat terdahulu yang tercantum dalam Alquran dan Sunnah

Ketiga, Syariat terdahulu yang tercantum di dalam Alquran dan Sunnah, namun tidak ada ketegasan

 

Kategori pertama, Syariat terdahulu yang tidak disebut di dalam Nash. Dalam hal ini, para ulama Ushul Fiqh sepakat tidak berlaku bagi umat Islam. Alasannya, keberadaan Syariat Islam telah mengakhiri keberlakuan syariat terdahulu tersebut.

Kategori kedua, syariat terdahulu yang disebutkan di dalam Nash. Dalam hal ini, para ulama Ushul Qiqh sepakat berlaku bagi umat Islam. Syaratnya yaitu ada ketegasan bahwa syariat-syariat tersebut berlaku bagi Umat Nabi Muhammad saw. Keberlakuan syariat terdahulu tersebut bukan karena keberadaan dan kedudukannya sebagai syariat sebelum Islam, namun lebih karena ditetapkan kembali oleh Nash. Contohnya syariat puasa Ramadhan yang berlaku bagi umat Islam merupakan syariat sebelum Islam. Kewajiban tersebut ditetapkan oleh Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemah

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Kategori ketiga, syariat terdahulu yang tercantum di dalam Nash, namun tidak ada ketegasan. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Misalnya syariat Qishas yang juga merupakan syariat Nabi Musa as. Hal ini sebagaimana disebut dalam Surah al-Mā’idah Ayat 45.

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيْهَآ اَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْاَنْفَ بِالْاَنْفِ وَالْاُذُنَ بِالْاُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّۙ وَالْجُرُوْحَ قِصَاصٌۗ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهٖ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهٗ ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Terjemah

Kami telah menetapkan bagi mereka (Bani Israil) di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya (balasan yang sama). Siapa yang melepaskan (hak kisasnya), maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Siapa yang tidak memutuskan (suatu urusan) menurut ketentuan yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.

 

Dari sekian banyak bentuk Qishas di atas, hanya qishas sebab pembunuhan yang ditetapkan dan berlaku bagi umat Islam. Hal ini tercantum dalam al-Baqarah: 178.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ ۗ ذٰلِكَ تَخْفِيْفٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗفَمَنِ اعْتَدٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Terjemah

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu (melaksanakan) kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan perempuan dengan perempuan. Siapa yang memperoleh maaf dari saudaranya hendaklah mengikutinya dengan cara yang patut dan hendaklah menunaikan kepadanya dengan cara yang baik*) Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Siapa yang melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih.

*) Perintah untuk memberikan kebaikan dengan cara yang baik berlaku untuk kedua belah pihak, baik pembunuh maupun wali korban pembunuhan.

 

Sedangkan bentuk Qishas lainnya yang disebut di dalam Al-Mā’idah 45 di atas, diperselisihkan oleh para ulama.

Pertama, kalangan Ḥanafiyah, Mālikiyah, mayoritas al-Shāfi’iyah, dan satu riwayat dari Aḥmad Ibn Ḥanbal menyatakan bahwa hukum-hukum tersebut berlaku bagi umat Islam. Alasan yang mereka ajukan yaitu:

1.      Pada dasarnya, syariat itu adalah satu, karena sama-sama datang dari Allah SWT. Sehingga, syariat terdahulu dan disebutkan dalam Nash, berlaku juga bagi umat Nabi Muhammad saw. Hal ini disebutkan dalam Surah al-Syūrā Ayat 13.

 

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ

Terjemah

Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).

 

 

2.      Beberapa ayat memerintahkan untuk mengikuti para nabi terdahulu, misalnya dalam al-Naḥl: 123

 

ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Terjemah

Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan tidak termasuk orang-orang musyrik.”

 

al-An’ām: 90.

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ

Terjemah

Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atasnya (menyampaikan Al-Qur’an).” (Al-Qur’an) itu hanyalah peringatan untuk (umat) seluruh alam.

 

Kedua, Mu’tazilah, Syiah, sebagian kalangan al-Syāfi’iyah, dan salah satu pendapat Aḥmad Ibn Ḥanbal. Kelompok kedua ini menyatakan bahwa syariat terdahulu, meskipun disebut di dalam Nash namun tidak ada ketegasan pemberlakuannya, maka tidak menjadi syariat bagi umat Nabi Muhammad saw. Di antara argumentnya yaitu:

1.      Al-Mā’idah: 48

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

Terjemah

Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). Maka, putuskanlah (perkara) mereka menurut aturan yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan (meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan.

 

2.      Hadis Mu’ādz Ibn Jabbāl

 

Sedangkan menurut ‘Abd al-Wahhāb Khallāf, pendapat pertama merupakan pendapat terkuat. Ia memberi alasan bahwa syariat hanya membatalkan hukum yang berbeda dengan syariat Islam. Segala hukum yang termaktub di dalam Nash sementara tidak ada keterangan penghapusannya (naskh), maka hukum-hukum tersebut berlaku bagi umat Nabi saw. Selain itu, penyebutan hukum-hukum di dalam Nash merupakan petunjuk bahwa ia menjadi petunjuk bagi umat Nabi saw.

Share This Article :
Kang Masykur
2830497731575963414