Dunia Tanpa Saring

 


Saat ini kita hidup di dunia antah berantah. Kondisi ini perlu kita sadari, agar tidak terseret arus negatifnya. Dunia di mana kita bingung mana yang benar mana yang salah. Semua merasa benar dengan omongannya, dan bahkan cenderung menyalahkan orang lain yang tidak senada dengannya.

Bukan ahli IT memosisikan dirinya sebagai paling tau tentang teknologi. Bukan ahli bangunan, membangun gedung. Bukan ahli kesehatan, memberi resep buat temennya yang sedang sakit. Bukan seorang montir membuka jasa service mobil. Cilakanya, bukan Ahli Agama, ngomong paling keras tentang agama. 

Bisa dibayangkan to akibatnya? Semua rusak dan tidak teratur. Parahnya lagi, para "ahli" dadakan itu banyak followernya, banyak pengikutnya, yang setia mengamini setiap sabdanya. 

Manusia menjadi semakin bimbang menentukan langkah. Informasi serba cepat berseliweran dan sangat mudah diakses, meskipun banyak positifnya, namun tidak sedikit memberi efek negatif. Tentu bagi mereka yang punya "bekal" akan mudah menyaring, menimbang, menentukan, dan melangkah. Namun bagi sebagian yang lain, bisa jadi semua informasi tersebut ditelan. Wal hasil, otak penuh dengan informasi yang entah benar entah salah. 

Otoritas itu telah "dianggap" hilang. 

Kasus rutin menjelang akhir tahun yang selalu mencuat adalah mengucapkan selamat natal. Sebagian orang menganggap tidak masalah, toh tidak memengaruhi keimanan apapun. Namun sebagian yang lain, ngotot bahwa ucapan itu terlarang, haram jadah, kafir, neraka. Lebih parahnya, mereka merasa paling benar dengan mengatasnamakan Quran dan Sunnah yang entah ada atau tidak, entah dibaca atau sekadar ikut-ikutan belaka.  

Bosen ga si tiap tahun itu lagi itu mulu yang dibicarakan. Kasarannya, mereka yang beragama Nasrani saja banyak yang memaklumi, sementara kita yang muslim selalu ribut masalah itu lagi itu lagi. Semestinya, mau ngucapin silakan, engga mau juga tak jadi masalah. Terpenting adalah jangan merasa benar sendiri, menyalahkan orang lain, bahkan berlagak menjadi Tuhan. 

Kebimbangan itu muncul akibat minimnya pengetahuan. Akhirnya ikut-ikutan. Maka, otak perlu diberi asupan yang bergizi. Lebih banyak membaca sumber yang otoritatif ketimbang baca komen di FB, IG, Twetter tentu akan menambah informasi yang valid. Belajar dari Guru dan dari lembaga yang resmi menjadi kunci yang lain sehingga kekaburan kebenaran itu perlahan sirna.

Seorang dokter misalnya, sama sekali tidak dilarang menjadi Ahli Agama. Namun tentu keahliannya dalam beragama berbeda dengan seorang yang sedari belia mengenyami agama. Oleh karenanya, belajar lah ilmu kedokteran ke para dokter, dan belajar lah agama ke para Kiai. Bahkan, Dokter dan Kiai bisa dan wajib berkolaborasi. Untuk menentukan hukum yang terkait dengan kesehatan misalnya, tidak bisa seorang Kiai sendiri. Ia membutuhkan informasi valid dari sang Dokter. 

Membaca Sumber Otoritatif

Melarang berbicara dan menyampaikan opini tentu bertentangan dengan semangat kebebasan yang dimanatkan oleh undang-undang. Namun kebebasan itu terikat oleh norma. Akhlak dan pengetahuan menjadi basis utamanya. Berbicaralah ketika itu benar dan tidak menyakiti orang lain. Berpendapatlah ketika itu benar dan tidak merugikan orang lain. Ada batas-batas yang tidak boleh dilindas.

Pengetahuan yang benar dapat diperoleh melalui bacaan yang benar. Referensi yang benar menentukan arah kebenaran itu. Agama Islam misalnya, untuk memahaminya diperlukan serangkaian proses membaca. Alquran dan Sunnah merupakan dua sumber utamanya. Untuk memahami keduanya, dibutuhkan serangkaian alat bantu, kitab tafsir dan syarah, tidak sekadar terjemah misalnya. Begitu pula, untuk memahami isi kandungan keduanya, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, dibutuhkan alat bantu yang lain, Ushul Fiqih misalnya. 

Bukankah Sumber Hukum Islam itu ada banyak? Menyandarkan pada kalimat "di Quran begini" atau "di Hadis begini" tentu tidak salah. Sebab memang pada kenyataannya, keduanya merupakan sumber utama. Ide moral setiap masalah pasti dapat dirujuk pada keduanya. Masalahnya adalah, sejauh apa kita memahami isi keduanya? sebanyak apa referensi yang kita baca untuk memahami keduanya? apa jangan-jangan hanya menyandarkan pada terjemah belaka?

Yuk, mulai bijak berbicara, berpendapat, dan menggunakan jari jemari kita. Berbicara yang baik, berpendapat yang baik, dan gunakan jari kita untuk kebaikan. 

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak