Ke Arah Falsafah Kesatuan Ilmu


 Mengenal Falsafah

Falsafah (philosophia; filsafat) dimaknai sebagai ḥubb al-ḥikmah atau cinta akan kebijaksanaan dan pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu sebatas yang memungkinkan bagi manusia. Posisinya berada di antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi, filsafat berisi pemikiran-pemikiran mengenai pengetahuan-pengetahuan definitif yang sangat luas dan cenderung tidak berujung. Di samping itu, ia juga memiliki kesamaan dengan sains, yaitu lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu. Ia berada pada wilayah tak bertuan.

Filsafat dianggap sebagai induk ilmu. Ia digerakkan oleh tiga konsep utama; ontology, epistemology, dan aksiologi. Ketiganya menjadi cabang pokok filsafat yang berfungsi menuntun pada pengatahuan akan hakikat sesuatu.

Selain fungsinya sebagai pencari hakikat sesuatu, filsafat juga mempunyai tugas praktis yaitu sebagai penjernihan konsep; sebagai pandangan hidup, dan sebagai penjernihan konsep sekaligus jalan hidup. Sementara itu, mengutip Sholihan, filsafat mempunyai tiga fungsi praktis utama (konotasi filsafat) yaitu sebagai pandangan hidup, metode berpikir, dan sebagai ilmu.

Waḥdah al-‘Ulūm dan Usaha-Usaha Penyatuan Ilmu

Wahdatul ‘ulum atau penyatuan ilmu atau kesatuan ilmu, hadir sebagai reaksi atas dikotomisasi antar ilmu; Barat vs Islam, Agama vs Sains, Ilmu agama vs Ilmu Umum. Keduanya dibedakan lantara ada anggapan bahwa keduanya secara epistemology berbeda. Perbedaan keduanya, sebenarnya telah muncul secara awal kemunculan filsafat yaitu Plato vs Aristoteles; observasi vs ilham; 'ilm al-ḥuṣūlī vs 'ilm al-ḥuḍūrī. Perbedaan kedua tokoh tersebut rupanya disinyalir kuat memengaruhi filsuf Muslim, Al-Kindi yang membedakan pengetahuan menjadi dua; inderawi dan akal.

Al-Farabi dan Ibn Sina merupakan dua tokoh yang sejak semula berusaha mengintegrasikan kedua perbedaan tersebut. Al-Farabi misalnya, menguraikan secara rinci bahwa kendati pemikiran Aristoteles mengenai metafisika cenderung sering digambarkan sebagai "ilmu ilahi", sebenarnya pemikiran Aristoteles tersebut dilakukan untuk melakukan studi tentang wujud, prinsip-prinsip, dan sifat-sifatnya— yang dalam hal ini indentik dengan observasi (Plato).

Wahdatul ‘Ulum sebagai Paradigma

Thomas Kuhn dalam mendefinisikan paradigma sebagai gabungan hasil kajian yang terdiri dari seperangkat konsep, nilai, tata cara, teknik, yang digunakan secara bersama dalam suatu kelompok masyarakat atau komunitas tertentu untuk menentukan keabsahan siatu objek permasalahan serta jalan keluarnya.  Dalam konteks keilmuan, paradigma merupakan hasil konsensus dari anggota komunitas, dalam hal ini komunitas keilmuan, agar produk pikir yang mereka hasilkan dapat berbeda dan memiliki ciri khas dengan komunitas keilmuan lainnya.

Penyatuan ilmu (integrasi keilmuan; wahdatul ‘ulum; Islamisasi ilmu) merupakan paradigma yang ditawarkan oleh sejumlah ilmuwan dan pemikir Muslim modern untuk menjawab tantangan zaman. Kehadirannya dilatarbelakangi oleh fakta bahwa saat ini, kondisi keilmuan Islam telah jauh tertinggal dibandingkan dengan entitas keilmuan lainnya. Integrasi keilmuan diharapkan akan memberikan spirit religiusitas dan keberadaan Yang Kudus dalam setiap ilmu pengetahuan yang dikembangkan, sebab sejak abad pertengahan, ilmu pengetahuan telah bergerak ke arah yang cenderung sekular.

Integrasi keilmuan perlu diupayakan demi kehidupan yang lebih baik, khususnya bagi umat Islam. Ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat, yang didominasi oleh ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat lahiriah perlu diintegrasikan dengan ilmu-ilmu yang dapat membawa pada ketenangan batin, sehingga antara dimensi lahiriah dan dimensi batiniyah sama-sama dipertimbangkan. Di sinilah letak pentingnya wahdatul ‘ulum.

Sementara itu, Haidar Bagir mengemukakan tiga argumentasi pentingnya banguan sains yang Islami. Pertama, umat Islam membutuhkan suatu sistem sains yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, baik yang berifat material dan spiritual. Kedua, secara sosiologis, umat Islam tinggal di wilayah geografis yang berbeda dan memiliki kebudayaan yang berbeda pula dari Barat yang merupakan pusat atau tempat sains modern dikembangkan. Ketiga, sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah memiliki peradaban Islami yang sangat unggul, di mana sains berkembang sesuai dengan nilai dan kebutuhan–kebutuhan umat Islam.


Disarikan dari;
Sholihan. Buku Ajar Falsafah Kesatuan Ilmu Paradigma Keilmuan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Semarang: RaSAIL Media Group, 2021. 
Chair, Badrul Munir. Falsafah Kesatuan Ilmu. Semarang: SeAP (Southeast Asian Publishing), 2020.

Makalah silahkan buka di sini

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak