Memahami Moderasi Beragama

 

Lagi-lagi, sebagaimana saya sampaikan dalam artikel sebelumnya Bersama dalam Keberagaman, bahwa kesadaran bahwa kita hidup di negara Indonesia yang multi ini perlu ada di hati dan pikiran kita. Kita beragam dan berbeda; suku, agama, bahasa, warna kulit, aliran kepercayaan, pola pikir, kesukaan, bacaan, dan sederet perbedaan yang lain.

Tidak saja pada agama yang berbeda, bahkan dalam satu agama saja, Islam misalnya, banyak madzhab dan alirannya, yang juga berbeda. Maka menghayati agama; ajarannya, alirannya, madzhabnya, secara benar menjadi kunci utama untuk mewujudkan kesalingpemahaman itu. Memahami agama Islam, bagi seorang muslim, merupakan kebutuhan pokok.

Beragama dan Tantangannya

Agama perlu ditempatkan pada posisi yang semestinya, yaitu sebagai ajaran pembawa kasih sayang (raḥmatan lil ‘ālamīn). Untuk mengetahui bahwa ajaran agama Islam adalah ajaran damai dan toleran, perlu mempelajarinya secara serius, komprehensif, menyeluruh, tidak sepotong-sepotong, dan tidak kaku (tekstualis). Pemahaman agama yang tidak sempurna, justru akan membawa pada kekeliruan aksi. Semestinya damai dan harmoni, yang muncul justru merasa paling benar dan menyalahkan pihak lain.

Banyak penelitian menyebutkan bahwa kekerasan atas nama agama, baik verbal maupun fisik, merupakan akibat dari pemahaman agama yang keliru. Beragama hanya sebatas busana dan aksesoris, beragama hanya berdasarkan teks dengan mengabaikan konteks, merupakan bukti bahwa pemahamannya tidak utuh. Dari kekeliruan itu, lalu muncul klaim kebenaran. Hanya dirinya yang benar, sementara yang lain salah, bidah, sesat, kafir, dan harus diperangi (radikal dalam beragama).

Radicalism agama; sebuah paham atau aliran keras yang berasal dari suatu ajaran agama yang menimbulkan sikap intoleransi. Tiga tipologinya; radikal dalam berpikir, radikal dalam bertindak, dan radikal dalam berpolitik.

  • Radikal dalam berpikir yaitu cara pandang yang menganggap sesat, kafir, dan bidah kepada orang yang berbeda dengannya.
  • Radikal dalam betindak yaitu bertindak semata berbasis teks belaka.
  • Radikal dalam berpolitik yaitu Hasrat menggebu ingin mengganti sistem pemerintahan yang ada.

Ciri utama gerakan ini yaitu; pertama, gerakan mereka hayati sebagai panggilan agama. Melaksanakannya sama dengan melaksanakan agama. Melawannya sama dengan melawan agama. Kedua, ketaatan pada pemimpin mereka, dianggap sebagai ketaatan pada Tuhan. Melawannya dengan demikian seolah melawan Tuhan. Ketiga, ideologi gerakan radikal dianggap sebagai kebenaran tunggal. Keberadaan tafsir keagamaan yang lain, dianggap sebagai kesesatan.

Sedangkan di kutub yang lain, ada gerakan serba boleh (permisif). Hal ini tidak lebih meresahkan ketimbang gerakan pertama. Bagian kedua ini dikenal dengan liberalism Islam; sebuah cara pandang yang amat longgar dalam memahami teks. Jika Islam radikal lebih mengarah pada upaya puritanisasi (pemurnian) agama, maka Islam liberal mengarah pada upaya pemisahan urusan agama dan negara (politik dan kehidupan).

Islam liberal menurut MUI melalui fatwa Munasnya yang ke-7 pada tanggal 25-29 Juli 2005 adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an dan As-Sunnah) menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata. Terlepas dari fatwa Haram MUI atas liberalism, gerakan ini muncul sebagai respon atas hegemoni dan otoritas keagamaan yang ada. Kritik yang dialamatkan pada gerakan ini lantaran beberapa kasus; semua agama sama, al-Qur’an bukan wahyu Allah, ajaran Islam menindas kaum perempuan, perempuan boleh menjadi imam salat, dan sebagainya.

Kedua kutub tersebut, perlu menjadi perhatian bersama, khususnya pemuda dan mahasiswa. Sementara, mahasiswa dan pemuda, hidup di era di mana semua hal bersifat cepat. Termasuk informasi mengenai agama. Saat ini kita hidup di mana otoritas berubah arah. Siapa pun “seolah” boleh ngomong apapun, termasuk agama. Ketika agama disampaikan oleh orang yang tidak berkompeten (bukan ahlinya) maka tentu agama akan rusak. Jangankan agama, HP akan rusak ketika dibongkar dan diotak-atik oleh sembarang orang.

Jika dulu agama diperoleh dengan mengaji ke surau, masjid, pondok pesantren, atau datang ke rumah guru, maka sekarang cukup buka HP atau laptop, ketik google, lalu search apapun yang ingin kita tahu, semua tersaji di sana. Selain tidak bersanad, informasi yang ada di internet kebanyakan tidak berdasar. Agama menjadi tidak terarah. Kecerdasan berinternet dan bermedsos dengan demikian sangat dibutuhkan. Menjadi mahasiswa menjadi pemuda perlu melek literasi sehingga bisa menyaring informasi.

Setidaknya ketiga hal itu (radikalisme agama, liberalism agama, dan era digital) menjadi tantangan kita bersama. Cara ampuhnya, sekali lagi, adalah dengan mendalami ajaran agama, belajar agama, secara utuh dan menyeluruh, sehingga mampu bersikap, bahkan sejak dalam pikiran, secara toleran dan moderat.

Moderasi Beragama

Moderasi berarti kesedangan, pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman. Moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. Dalam bahasa arab, moderasi semakna dengan wasaṭiyah (tawassuṭ; tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tasamuḥ (berimbang). Lawannya adalah berlebihan, taṭarruf, al-ghuluw, tasyadduf, extreme, radical, excessive.

Moderasi ber­agama dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, se­lalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap ber­agama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif). Keseimbang­an dalam praktik beragama akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fa­natik dan sikap revolusioner dalam beragama. Moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultra-konservatif atau ekstrem kanan di satu sisi, dan liberal atau ekstrem kiri di sisi lain.

Prinsip Utama

Prinsip dasar dalam bermoderasi adalah menjaga keseimbangan, antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan masa depan. Adil dan berimbang dalam memandang, menyikapi, dan mempraktikkan semua konsep yang berpasangan tersebut. Prinsip selanjutnya berimbang dalam hal cara pandang, sikap, dan komitmen untuk selalu berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan persamaan.

Perbincangan mengenai Moderasi Beragama dapat diurai melalui tiga pintu; pertama, moderasi pemikiran, yaitu seimbang dalam memadukan antara teks dengan konteks. Kedua, moderasi gerakan, yaitu keseimbangan dalam gerakan penyebaran agama, mengajak kepada kabaikan di saat yang sama menjauhkan diri dari kemungkaran. Keduanya dilakukan dengan kebijaksanaan (hikmah). Ketiga, moderasi tradisi dan praktik keagamaan yaitu penguatan relasi antara agama dengan tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat.

Indikator Moderasi Beragama

Merujuk pada Moderasi Beragama Kementerian Agama RI, terdapat 4 indikator moderasi beragama yaitu

Komitmen kebangsaan; menerima NKRI dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan sikap terhadap tantangan ideologi yang berlawanan dengan Pancasila, Nasionalisme, serta menerima UUD 1945 serta aturan di bawahnya yang memuat prinsip-prinsip berbangsa.

Toleransi; sikap memberi ruang dan tidak menganggu hak orang lain dalam berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan opini.

Anti-kekerasan; menolak suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrem atas nama agama, baik kekerasan verbal, fisik dan pikiran.

Akomodatif terhadap kebudayaan lokal; menerima praktik amaliah keagamaan yang mengakomodasi kebudayaan lokal dan tradisi.

Sementara itu, Mahasiswa UIN Walisongo, melalui Rumah Moderasi Beragama mengarah mereka untuk mampu mengembangkan nilai-nilai kebijaksanaan para wali (Walisongo) dalam menyebarkan Agama Islam. Dakwah mereka yang tanpa kekerasan dan dominan menerima, merangkul, dan melakukan asimilasi terhadap budaya yang ada. Para wali itu mengajak tanpa merusak.

Sementara itu, sebagaimana saya sampaikan di awal, saat ini kita sama-sama hidup di era digital. Disrupsi di semua lini kehidupan. Maka peran kita semua dalam menyemarakkan Islam yang moderat, adil dan berimbang, Islam yang ramah, yang merangkul bukan memukul, Islam yang adaptif atas segala kondisi yang ada, dibutuhkan pada era ini. Masyarakat dunia nyata dan mayoritas berada di dunia maya perlu kita sentuh dengan metode dan cara yang santun dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Mari sama-sama berusaha dan berproses untuk mewujudkan cita-cita tersebut, melalui 1) pendalaman ajaran agama secara baik dan menyeluruh, 2) banyak membaca pada sumber yang dapat dipercaya, dan 3) menyebarkan narasi positif, Islam damai dan toleran, masyarakat Indonesia yang mencitai kebaikan dan kebersamaan, dan mahasiswa yang aktif dan kritis.

Wallāhu a’lam

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak