Budaya Lokal dan Universalitas Islam

 




Sejarah mencatat bahwa kedatangan Islam tidak serta merta menghapus budaya yang ada. Akikah misalnya, merupakan adat yang pernah hidup pra-Islam yang tidak di-nasakh oleh Islam. Pembauran ini terjadi pada banyak hal lain. Hal ini jelas menandakan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menghormati adat istiadat dan budaya masyarakat setempat.

Dengan kata lain, Islam telah “menegosiasikan” antara teks dan konteks sosial-buaday masyarakat. Negosiasi ini pun pernah dilakukan atau diaktualisasikan oleh Nabi Muhammad Saw dalam dakwahnya, dengan sifat cerdiknya (faṭānah) mampu membaca kondisi masyarakat yang ada sehingga pada akhirnya masyarakat menerima ajaran Islam.

Pada perkembangannya, apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. tersebut dijadikan pedoman dan tentu saja dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, para sahabat dan tabi'in. Dalam kajian Ushul Fikih misalnya, adat bahkan menjadi salah satu sumber hukum Islam. Meskipun sebagai salah satu dalil yang diperselisihkan penggunaannya, namun hal itu membuktikan bahwa keberadaannya sangat dipertimbangkan.

Hal ini seperti yang dipraktikkan Muḥammad Ibn Ḥasan al-Ḥanafi, dalam kitab berjudul al-fiqh al-‘Irāqī (fiqh bercorak Irak), Muḥammad Ibn Idrīs al-Shāfi’ī yang mengeluarkan qawl qadīm dan qawl jadīd.

Bahkan dalam dalam beberapa kaidah, adat telah diposisikan sama dengan nash. Hal ini menandakan bahwa lokalitas menjadi ukuran penting keberlakuan ajaran Islam.

Berikut saya tuliskan hubungan antara adat (budaya lokal) dengan Islam dalam salah satu bagian dari buku Moderasi Beragama di Indonesia; Kebangsaan, Kebudayaan, dan KeIslaman Jilid 5. Silahkan akses
 di sini 




Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak