Menyadari Perbedaan menjadi Kunci Keharmonisan



Coba perhatikan teman di samping kanan dan kiri anda, tetangga anda, lingkungan anda, komunitas anda, dan tempat anda berada. Beda warna kulit, beda bahasa, bed acara makan, beda cara berpikir, cara mengekspresikan ajaran agama, bahkan segala hal berbeda antara anda dengan orang di sekitar anda.

Melalui webinar yang diselenggarakan oleh KKN MIT ke-14 Kelompok 85 UIN Walisongo Semarang pada Kamis 7 Juli 2022, saya akan berbagi informasi mengenai moderasi beragama dalam bingkai kemajemukan dan bagaimana mahasiswa mengisi peran tersebut.

Meski Berbeda Namun Menyatu

Berbeda itu sebuah keniscayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Anda bisa bayangkan betapa membosankannya ketika semua sama. Anda bisa melihat analogi ini dalam serial SpongeBob SquarePants ketika Squidward memutusakan untuk pindah di satu komunitas yang sama.

Tuhan menciptakan kita dalam bentuk dan rupa yang beranekaragam. Tujuannya adalah untuk saling mengenal dan bekerja sama sehingga terwujud persatuan dan kesatuan. Memaksa untuk sama dengan demikian sama dengan menyalahi fitrah tersebut.

Perbedaan kebiasaan diterjemahkan menjadi multikultural. Multi berarti banyak beragama, sedang kultural yaitu segala hal berkaitan dengan budaya. Multikultural sering dimaknai dengan kesatuan berbagai etnis yang berbeda dalam sebuah negara. Sementara multikulturalisme merupakan paham yang menghendaki penyatuan berbagai kelompok budaya yang berbeda dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern.

Contoh nyatanya ialah Indonesia. Negara besar tempat bernaung berbagai macam suku, budaya, bahasa, ras, dan agama. Semuanya berkumpul menjadi satu dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua perbedaan yang menyatu tersebut menjadi sama rasa sama rata dalam hak dan kewajibannya sebagai warga bangsa.

Kemajemukan bangsa Indonesia dalam tahap tertentu merupakan sumber bagi persatuan dan kesatuan. Hal itu dapat terwujud ketika kekayaan budaya yang ada ini, kita manage dengan baik. Manajemen yang baik akan membawa kepada keteraturan. Sebaliknya, kekayaan tersebut dapat berimbas pada percekcokan dan perselisihan. Terlalu banyak untuk diceritakan bagaimana konflik atas dasar kesukuan, sosial, politik, dan agama terjadi di negara yang kita cintai ini.

Oleh karenanya, kesadaran bahwa kita berbeda harus ada di dalam sanubari kita. Dengan kesadaran tersebut, kita akan tau bahwa sungguhpun berbeda, kita semua adalah manusia. Lebih dari itu, sebagai manusia yang sempurna tugas utamanya ialah memanusiakan manusia.

Kesadaran tersebut berdampak baik penghormatan kepada berbagai kearifan lokal yang ada. Dengannya pula akan muncul ide, sikap, dan tindakan yang toleran. Dengan toleransi, kekerasan dapat dihilangkan, atau minimal diminmalisir. Sehingga dengan keduanya, keutuhan, kekuatan, keharmonisan dalam kehidupan berbangsa bernegara bukan suatu yang musathil untuk wujudkan dan dipertahankan.

Keempat hal tersebut, komitmen berbangsa, toleransi, anti kekeran, dan merangkul kearifan lokal, merupakan indikator utama moderasi beragama. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Kementerian Agama RI.

Apa itu Moderasi Beragama?

Moderasi (wasaṭiyah) bermakna tengah-tengah, adil, komprehensif, proporsional dalam segala hal. Moderat sering dipersamakan dengan tawāsuṭ, i’tidāl, tasāmuḥ. Lawan kata moderat yaitu taṭarruf, al-ghuluw, tasyaddud, extrem.

Sedangkan moderasi beragama secara umum dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Ia dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama secara pribadi (ekslusif) dengan penghormatan terhadap praktik beragama orang lain yang berbeda (inklusif). Ia menjadi solusi atas keberadaan dua kutub ektrem dalam beragama (ultra-konservatif vs liberal).

Moderasi beragama tidak bermakna memoderasikan agama. Sebab agama, sejak awal telah mengajarkan moderatisme. Moderasi beragama menekankan pikiran, sikap, dan perilaku moderat para pemeluknya. Melalui moderasi beragama, pikiran, sikap, dan perilaku setiap muslim menjadi seimbang dalam banyak hal; akal dan wahyu, teks dan tafsir keagamaan, jasmani dan rohani, individu dan komunal, gagasan dan realita. Keseimbangan tersebut harus berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan persamaan,

Moderasi Beragama menjadi Kewajiban Mahasiswa

Mahasiswa mengemban amanat yang super besar, yaitu menjadi agen perubahan. Estafet kepemimpinan, masa depan Indonesia, dan kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, berada di pundak mereka. Maka, keselarasan antara ilmu dan amal menjadi modal utama.

Saat ini, kita semua hidup dalam era serba cepat yang meniscayakan kecepatan dalam berbagai hal. Informasi apapun dapat segera kita dapatkan melalui jaringan internet yang ada di gawai kita. Ilmu yang memadai menjadi kunci agar tidak terseret pada derasnya arus informasi tersebut.

Mahasiswa perlu menegaskan diri mereka sebagai manusia intelektual. Kehilangan diri menyebabkan keserampangan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Oleh karenanya, sebagai makhluk intelek, mahasiswa dituntut untuk mengamalkan setiap ilmu dan mendasarkan setiap amal pada ilmu. Lebih dari itu, dalam nuansa yang beragam (majemuk; multi) ini, setiap mahasiswa harus membentengi diri dengan ilmu, sehingga dapat mengelola setiap perbedaan menjadi keharmonisan. Mahasiswa yang wasaṭī menjadi sumber utama bagi terwujudnya kebaikan dan kemaslahatan.

Cara yang dapat dilakukan, mengutip pendapat Prof Quraish Shihab yaitu saling berdialog, saling mengenal, saling berinteraksi dengan prinsip saling menghargai dan tidak apriori dan memonopoli, dan berdialog untuk mencari titik temu, bukan berdebat dan membanggakan diri. 

Dengan demikian, mahasiswa moderat bertumpu pada kemauan untuk terus memperkaya dan mendalami ilmu pengetahuan. Dengan kekayaan dan kedalaman ilmu, maka ia akan menjadi pribadi yang 1) lebih banyak menggunakan akal sehat ketimbang emosi sesaat, 2) menyadari lalu menghormati kemudian berkolaborasi dengan setiap perbedaaan yang ada, 3) dapat mengelola setiap potensi yang ada. 

Kebaikan itu menular dan akan menghadirkan keharmonisan dalam kehidupan.

wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Comments

Formulir Kontak